MANUSIA
ADALAH ciptaan Tuhan yang paling sempurna dibandingkan makhluk lain di muka
bumi. Dalam perjalanannya, manusia dihadapkan dengan banyak ujian yang notabene
adalah pencarian bekal menuju alam yang hakiki, yakni akhirat.
Ketika
menjajaki perjalanan di bumi, manusia tidak ubahnya air mengalir yang tidak pernah
menjumpai ujungnya. Ironisnya, masih banyak manusia yang bertanya: siapa, ada
di mana dan mau ke mana saya? Pertanyaan seperti itu menjadi suatu yang nihil, karena
ternyata sebagian orang masih banyak yang belum mengenal hakikat manusia.
Dalam
buku karangan Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, M.A ini, menjadi salah satu jawaban
dari banyaknya pertanyaan yang tidak kunjung menemukan jawaban berarti dan
tentang pilihan hidup yang lebih baik. Saat ini masih banyak kelompok yang
mempunyai idealisme komunis dan semakin menghantui kaum pemuda yang sedang
dalam pencarian jati dirinya.
Manusia
yang disebut sebagai makhluk mulia, satu sisi bisa saja menjadi manusia hina ketika
dirinya sudah lupa akan kebesaran Tuhan. Dalam buku ini, kita dapat mengambil
pelajaran tentang kedudukan diri kita sebagai manusia, sehingga menjadi cikal
bakal kesadaran diri agar menjadi manusia yang bermartabat.
Keistimewaan
kedudukan manusia dibanding dengan makhluk lain adalah: pertama, sebagai makhluk Allah yang berbeda dengan makhluk lain.
Secara hakikat manusia memang tidak akan pernah sama bila dibandingkan dengan
makhluk Tuhan yang lain, (meskipun sama-sama diciptaan oleh Allah). Dalam QS. Fathir
[35] ayat 11, dijelaskan:
Dan Allah menciptakan kamu dari
tanah, kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan
(laki-laki dan perempuan) dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan
tidak (pula) melahirakan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan sekali-kali
tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangin
umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya
yang demikian itu bagi Allah adalah mudah.
Kedua, khalifah Allah. Manusia kembali ditinggikan derajatnya, karena
manusia merupakan khalifah di muka bumi ini. Khalifa dapat diartikan sebagai pemimpin di
bumi ini untuk
memberikan perubahan yang lebih baik. Seperti yang terkandung dalam QS. Yunus
[10] ayat 14, yang artinya:
Kemudian kami jadikan kamu
pengganti-pengganti (mereka) di muka bumi sesudah mereka, supaya kami
memperhatikan bagaimana kamu berbuat.
Ketiga,
hamba Allah. Kedudukan ini menunjukkan bahwa manusia sudah berada pada posisi
yang tertinggi setelah melewati dua posisi
yang rendah sebelumnya. Pada tingkat ini, manusia sudah menjadi hamba atau pengabdi
kepada Allah yang selama hidupnya harus mengabdikan dirinya kepada Allah.
Kedudukan ini menempatkan manusia pada kedudukan sebagai al-abid (yang menyembah, yang mengabdi). Sedangkan
Allah sebagai al-mabud (yang mesti
disembah). Sebagai abid, manusia
harus berkeyakinan, bahwa yang patut disembah kecuali Allah adalah Allah, Tuhan
satu-satu-Nya yang wajib disembah dan mengabdi kepada-Nya. (hal. 82).
Setelah
mengetahui tentang hakikat diri kita yang merupakan makhluk bermartabat. Marilah
kita menjadi manusia yang bisa memberikan perubahan lebih baik di dalam muka bumi
ini. Karena sudah banyak nikmat yang telah Tuhan anugerahkan kepada kita semua.
Menjaga bumi ini dan menjadi makhluk yang terbaik.
Apa
tugas kita selanjutnya?
Seperti
yang dijelaskan dalam buku ini, kita dituntut untuk menjadi manusia yang
bertakwa kepada Allah. Sebagaimana tercantum dalam QS. Al-Nisa[4]: 1, artinya:
Hai sekalian manusia, bertakwalah
kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya
(tulang rusuk) Allah menciptakan istrinya dan dari pada keduanya Allah
memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah
kepada Allah yang dengan (mempergunakan) namanya-Nya kamu saling meminta satu
sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu
menjaga dan mengawasi kamu.
Oleh
karena itu, jadilah manusia yang bermartabat dan bisa memberikan perubahan yang
indah dalam dunia titipan Tuhan ini. Selain itu, kita juga akan kembali ke alam yang kekal, yakni alam akhirat.
Buku
ini penting kiranya menjadi sumber acuan bagi siapa saja yang sedang mencari
jati diri, karena di dalamnya memberikan langkah-langkah untuk menjadi manusia
yang husnul khatimah
dengan pemaparan bahasanya yang baik
dan sangat mudah dicerna.
Data Buku:
Judul Buku: Memahami Pejalanan Hidup dan Mati
Penulis: Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, M.A
Penerbit: Qaf
Cetakan: I, 2017
Tebal: 180 Halaman



Tidak ada komentar:
Posting Komentar