Sihirlah
sihirlah aku jadi puisi memuakkan
yang gampang terbakar dan terpukau
biarkan bangkaiku disaksikan anak cucu
hingga ia tahu kalau aku adalah batu
sihirlah aku jadi kata-kata memilukan
yang gampang dipandang orang dari belakang
jika jiwaku memberontak ambilkan tali
lalu gantung di tengah jalan atau di bawah jembatan
biar orang tahu kalau aku adalah puisi yang kehilangan tuan.
Yogyakarta,2013.
Jalan Setapak Menuju
matahari datang
mataku buta melihat semesta
kaki melangkah. hati meraba
jalan setapak menuju tubuhmu
telinga kubiarkan mengembara
ke batas-batas semesta, seperti luka
yang tiap kali menyalakan sumpahnya
di atas bongkahan-bongkahan kata.
setelah matahari tenggelam
kunyalakan lilin pinggir kali
sementara wajahku menggelombang
bersama daunan yang jatuh ke air itu
malam mencekam
suara hewan, bambu, dan manusia
membentur banyak peristiwa
yang bersemayam dalam kepala.
kutunggu fajar tiba
aku akan menambah nyala lilin pinggir kali
dan akan kusaksikan bagaimana matahari
terbakar hangus. lalu tercipta kembali.
Sumenep, 2013.
Percakapan
kau tahu: aku adalah nafsu di sampingku adalah cinta
yang sedang membangun gubuk kecil di jiwamu
KITA, tak ingin keluar dari tubuhmu
sebab kita diberikan dunia masing-masing
kau semesta. kita di tubuhmu.
Yogyakarta, 2014
Kau Menjilatnya
aku menikmati separuh bulan itu
duduk di tengah bongkahan waktu
bulan tinggal separuh di kejauhan
angin terhenti-henti pada rintihan
dan udara bangkit sebagai nyanyian
dari orang kesepian
2013.
Di Sebuah Malam
malam yang tercipta
masuk ke dalam lumpur
belakang rumah
sebelah pohonan dan batu-batu
suara jangkrik melengking-lengking
mencabik-cabik tubuhku
saat sepi
saat terciptanya puisi
aku takut. aku gila. alfatihah.
2013.
Malam Panjang
anak kita bermain angin istriku
menyanyikan lagu-lagu rindu
yang kau ajarkan saat hilangnya waktu
kita selalu menata alis romantis, ya, istriku
di pematangan sawah, dan di bawah pohonan
angin luka dan cemburu melihat kita
lalu rebah di rambutmu, di matamu. teduh
rumput-rumput itu masih tampak segar
bergoyang perlahan sesuai perasaan
kau tahu istriku; malam panjang di bawah bulan
menyimpan bayang-bayang di mata hewan
ya, hewan yang kau tangkap lalu kau lepas
sementara, hewan itu mulai lumpuh. tak bernafas.
Yogyakarta, 2013.
*Rusydi Tolareng, Lahir Sumenep Madura. Tercatat sebagai mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Aktif di Komunitas Sastra Rudal, dan Teater Cangkolangan.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar