Pohon Malam
Malam kurengkuh sendiri dan kegalauan beringsut layu. Diam. Lalu pergi menyusuri tulangku yang retak oleh kata
Kabut senja lenyap dan batang pohon semakin jelas di bukit sokon,
Bersama gelap dan sunyi kuhindari semut mata melihat luka.
Di atas pohon malam aku masih bisa melahirkan sajak. Tentang alam dan kenangan
Ada tanah, akar yang menyimpan harta, lalu kupeluk cangkul di sawah malam
Aku duduk di bawahnya sekedar melepas lelah, lalu berjejak mengisi sunyi yang tak bersuara
Melepas galau bintang pada daun yang terbang
Di sebuah cuaca, angin kencang sepanjang hari
Aku memetik guguran hujan, seperti tangan-tangan nakal di matamu
2011
Sepanjang Ketakmengertian
Aku berharap daun-duan malam memberiku surat cahaya.
Agar ketakmengertian layu di tepi jalan
Kukosongkan ruang, kukosongkan sajak
Untuk tinta waktuku, penyair selalu galau dengan sekarung gelombang
Yang membajakkan kata-katanya ke bumi
Aku berharap engkau memberiku ruang arti agar hilang menjadi satu dalam waktu
Aku tak risau akan kemolekan wajahmu
Karena kerinduan tetap meringkuhiku
Sepanjang ketakmengerianku
2011
Dialog Pohon
Anakku, setelah kau tanam biji waktu di tanah ini
Kau pergi tanggalkan tubuhmu mencari sekeping kata
Tubuh kerontang, mata nanar, rambut pirang, tubuh kering
Kau lukai matahari
Kau lukai rembulan
Anakku, seperti apakah engkau di sana
Pohon yang kau tanam tak memberiku jawaban
Padahal segala adaku terkuak limpah dimatamu
Matahari terus terbit di jiwaku
Menghijaukan baju kata
Yang terus kau kejar di rumah tua
Pohon ini penanda
Ingin kuloncat ke tubuhmu
Menaungi rerimbun hujan
Menyuburkan luka-luka
2011
Sapu Lidih
Karena kebersihan adalah keindahan
Sapu lidih mengakar di tubuhku
Kuusap wajah langit
Kulipat baju cakrawala di hati tukang sampah
2011
Kau Telanjang, tapi Kau Tertawa
Kita bukan orang gila
Waktu berkobar mengabarkan kata dan luka cakrawala pecah, deras darah anyir pekat
Sebuah ruang tanpa sadar tenggelam
Arus api tak menemukan tempat menyepi. Mengambuk dinding retak layu di kandang bisu.
Waktu tak berkata, tiba-tiba luka tak terasa
Luka kau tertawa, derita kau tertawa, lena oleh racun yang berhias permata
Pakaianmu mahal, hatimu murah
Rumahmu istana, isinya racun
Makanmu nyaman-nyaman, darahmu dosa
Hidupmu “serba” telanjang
Tawamu “serba” pecundang
Cukup airmata kujadikan bekal, menaiki kuncup awan di tengah cakrawala
Nyeri kulukis jadi rawa, tapi
Dimanakah tempat seharusnya aku hidup
Mengemban bisu waktu, untuk kuisi segumpal jejak peluh, dimana bunga-bunga hidup dan mata gersang di balik bambu melengking dingin rindu mendekap airmata
Musim menggelitik menawarkan aroma cinta
Angin mengapung di mataku
Membawa seserpih titik yang kutuju
Kutabur pupuk cinta, menghujani Tuhan
Berkali-kali kulompati rindu yang bergegas terbuka
Bila sunyi bersembunyi dikedalaman bunyi
Malam terancam tajam oleh dalih tawa
Tak ada luka yang menetes, tak ada petir mengamuk
Hanya gumpalan matahari yang beringsut waktu
Kusuguhkan sajak cahaya yang membawa peluh damai
Sedamai sungai-sungai
Sesejuk jiwa-jiwa yang terapung di atas huruf-huruf Tuhan
2011
Jejak Dimana Waktu Begitu Berarti
Ditengah malamku, kabut mengitari tepi mataku
Sepanjang detik yang tak teraba, musim berganti musim
Pohon berganti hijau, mata berganti kekosongan
Kuhisap sisa waktu, di sudut paling jauh, bersama rindu akan hijaumu yang kini mengapung kegersangan
Jejak batang siwalan berpeluh di kesunyian waktu
Masih bisa kuhadirkan serangkaian jejak
Jarak yang mengusung kata, kujadikan sajak raksasa
Dan jiwaku bergetar berpeluh kepasrahan
Kerinduan yang lama mendalam seperti rintihan sunyi dikedalaman dingin malam. Sebab kulepas hujan, licin pohon tak menghalangi kesunyian terbang ke lubuk mataku
Sepanjang pagi dan senja aku terguyur rindu, kesunyian, dan pelepah rasa
2011
*Penyair kelahiran Sumenep. Aktif di Forum Sastra Pesantren Indonesia (FSPI). Tinggal di Yogyakarta. Tulisannya telah dipublikasikan di media baik lokal maupun nasional dan dibukukuan dalam antologi bersama.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar