(Dipuplikasikan di Media Suara Pembaruan)
Burung
Kutitipkan salamku
Pada burung musafir,
Sampaikan. Diamlah sejenak
Untuk memastikan goresan senyum
Terpancar Di bibirnya
Kau kurindu, kau kusayang
Bayangmu kian memenjara
Setiap aktifitasku
Aku tak berdaya dihadapanmu
Aku hanya anak rantau
yang tak punyak tujuan
kutitipkan kembali
rasa rindu dan sayagku
agar tak ada beban
disetiap nafas ini behembus.
Yogyakarta, 2011
Sebuah Ilusi
Kekhawatiranku hanya sebuah ilusi
bagi setiap kaum lawan jenisku
aku hanya bisa menatap tajam
dikala mereka saling mengombar nafsu
dijalan-jalan, ditrotoar
dan disetiap sudut alam jagat raya ini.
tanpa ada kehawatiran dan rasa malu
seakan dipelukannya
sebuah batu yang tak berperasaan
aku hanya merenung pada
ilusi yang memenjaraku
terkadang, aku cemburu
pada nasib yang menghianatiku
aku ingin berteriak
mengatakan padanya
aku ingin seperti mereka.
Yogyakarta, mei 2011
Pelacur Malam
Indah berkecapung derita.
hanya itu yang ia rasakan
setiap suara yang keluar dari mulutnya
adalah ancaman baginya
tak ada pilihan. kecuali merayu,
meski harus berbohong
kasih sayng hanya sebuah semu,
dan ia harus menggadaikan
martabat dan kemaluannya
demi sesuap nasi dipinggiran jalan
terkadang, dia harus lari
maengejar agin yang tak mesti.
bahkan dia harus bersembunyi
ketika ada tikus-tikus berSK(surat kerja).
Yogyakarta,3o mei 2011
Cermin Kehidupan
Apakah cermin itu yang terlalu sempit
ataukah wajahku yang kian melebar?
hingga, tak bisa lagi kugunakan
cermin itu untuk kujadikan
bagian dari hidupku
hidupku hanya tinggal sebatangkara
dan tak ada wajah
yang mampu manjadi selir dalam hidupku
selain cermin yang kini
sering menyalahkanku
aku tak tahu.
apakah cermin itu
ataukah aku
kian lama, kian berpaling?
hanya waktu yang bisa menjawab
kini aku tak kuasa berdayung
bersama bayang dalam cermin itu.
Yogyakarta, 01 juni 2011
Dia
Dia tak bisa lagi menyanyi
alunan musik yang mengiringinya
rapuh ditelan masa
suaranya yang merdu
menjadi sumbang
syair yang dahulu mampu mensayupkan
angan dan impian yang ada disekelilingnya
namun syair itu lenyap
entah apa penyebabnya?
kesakitan yang dideritanya tak kunjung usai
syair dan gemuruh musik
tak lagi menjadi obat.
Juni, 01 / 06 / 2011
*Mahasiswa Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Bergiat di Komonitas Mellas Yogyakarta, menjabat PU Lembaga Pers Mahasiswa Advokasia Syari’ah dan Ilmu Hukum, Aktivis PMII, Mata Pena. Tulisannya di muat di media local dan Nasional.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar